“Jangan diniati mengajar, niati belajar bersama, tapi kamu yang memimpin. Nanti kalau kamu niatnya mengajar, merasa sudah jadi guru, malah tidak mau ngaji.”
— Syaikhina KH. Abdullah Faqih
Nasihat Syaikhina KH. Abdullah Faqih tersebut sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam bagi siapa saja yang memilih jalan khidmah di madrasah.
Menjadi guru bukan berarti telah selesai dalam belajar. Menjadi guru justru seharusnya membuat seseorang semakin sadar bahwa dirinya masih banyak kekurangan dan masih membutuhkan ilmu.
Ketika seseorang berada di depan kelas, ia memang bertugas memimpin proses pembelajaran. Namun, secara batin ia tetap harus menempatkan dirinya sebagai seorang pembelajar.
Mengajar Bukan Berarti Berhenti Belajar
Sering kali ketika seseorang sudah dipercaya menjadi guru, muncul perasaan bahwa dirinya sudah berada pada posisi sebagai orang yang mengajarkan ilmu kepada orang lain.
Padahal, ilmu yang dimiliki manusia sangatlah terbatas.
Nasihat “niati belajar bersama, tapi kamu yang memimpin” mengajarkan bahwa seorang guru hendaknya tidak merasa paling tahu. Guru memimpin pembelajaran, tetapi tetap membuka dirinya untuk belajar dari berbagai hal.
Bisa jadi pertanyaan peserta didik membuat guru kembali membaca. Bisa jadi permasalahan di madrasah membuat guru belajar menjadi lebih sabar. Bisa jadi pengalaman bersama teman sejawat membuat guru memahami sesuatu yang sebelumnya belum ia pahami. Dengan demikian, madrasah bukan hanya tempat guru mengajar, tetapi juga menjadi tempat guru bertumbuh dan memperbaiki diri.
Jangan Sampai Merasa Sudah Menjadi Guru
Kalimat “merasa sudah jadi guru, malah tidak mau ngaji” merupakan bagian yang sangat penting untuk direnungkan.
Menjadi guru adalah sebuah amanah, bukan alasan untuk berhenti mencari ilmu.
Jangan sampai status sebagai guru membuat seseorang merasa tidak perlu lagi belajar kepada orang lain. Jangan sampai karena sudah mengajar, kemudian merasa malu untuk bertanya. Jangan sampai karena sudah berdiri di depan kelas, kemudian enggan duduk di majelis ilmu.
Guru tetap membutuhkan guru.
Sebanyak apa pun ilmu yang dimiliki, masih ada ilmu yang belum diketahui. Setinggi apa pun pengalaman seseorang, tetap ada nasihat yang perlu didengar.
Karena itu, tradisi ngaji, membaca, berdiskusi, bertanya, dan belajar harus tetap dijaga.
Khidmah di Madrasah Adalah Jalan Pembentukan Diri
Khidmah di madrasah bukan hanya tentang memberikan tenaga dan pikiran untuk lembaga. Khidmah juga merupakan proses membentuk diri.
Dalam menjalankan tugas, seorang guru belajar tentang kesabaran, keikhlasan, tanggung jawab, kedisiplinan, dan keteguhan.
Ada pekerjaan yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Ada lelah yang tidak selalu mendapatkan apresiasi. Ada persoalan yang harus diselesaikan dengan kepala dingin.
Semua itu menjadi bagian dari perjalanan khidmah.
Karena itu, jangan hanya melihat madrasah sebagai tempat untuk bekerja. Lihatlah madrasah sebagai tempat untuk mengabdi, belajar, dan memperbaiki diri.
Guru yang Rendah Hati Akan Terus Belajar
Salah satu tanda bahwa seseorang masih mencintai ilmu adalah ia masih merasa membutuhkan ilmu.
Guru yang rendah hati tidak akan malu mengatakan, “Saya belum tahu.” Ia tidak malu bertanya. Ia tidak malu membuka buku. Ia tidak malu duduk bersama orang yang lebih alim untuk mendapatkan ilmu dan nasihat.
Sikap seperti inilah yang membuat seorang guru terus berkembang.
Sebaliknya, ketika seseorang merasa sudah cukup ilmu, di situlah proses belajarnya mulai berhenti.
Maka, seorang guru hendaknya menjaga hati agar amanah mengajar tidak melahirkan kesombongan, tetapi justru melahirkan kerendahan hati dan semangat untuk terus belajar.
Tetap Menjadi Santri
Menjadi guru tidak menghapus posisi kita sebagai pencari ilmu.
Guru tetaplah seorang pembelajar. Guru tetap membutuhkan nasihat. Guru tetap membutuhkan majelis ilmu. Guru tetap membutuhkan bimbingan dari para ulama dan orang-orang yang lebih berilmu.
Jangan berhenti menjadi santri hanya karena sudah menjadi guru.
Sebab ketika seorang guru masih mau ngaji, membaca, dan belajar, ia akan memiliki bekal untuk terus memberikan yang terbaik bagi peserta didiknya.
Dan lebih dari itu, ia sedang memberikan teladan bahwa mencari ilmu tidak memiliki batas usia dan tidak berhenti hanya karena seseorang telah mendapatkan amanah untuk mengajar.
Penutup
Nasihat Syaikhina KH. Abdullah Faqih tersebut layak menjadi pegangan bagi siapa saja yang sedang menjalankan khidmah di madrasah:
Mengajar dengan niat belajar bersama. Memimpin tanpa merasa paling tahu. Berkhidmah tanpa merasa paling berjasa. Dan menjadi guru tanpa pernah berhenti menjadi santri.
Karena pada hakikatnya, guru yang baik bukanlah guru yang merasa telah selesai belajar, tetapi guru yang menyadari bahwa dirinya akan selalu membutuhkan ilmu.
Madrasah adalah tempat kita mengajarkan ilmu, sekaligus tempat kita belajar tentang ilmu, kehidupan, kesabaran, dan keikhlasan.
Semoga setiap langkah dalam khidmah di madrasah menjadi jalan bertambahnya ilmu, luasnya manfaat, dan hadirnya keberkahan.